MODUL PEMBELAJARAN TAHSIN AL-QUR’AN
HAMZAH WASAL
هَمْزَةُ الوَصْلِ
Pengertian • Kaidah Membaca • Contoh Al-Qur’an • Latihan Praktik
Disusun untuk kegiatan pembelajaran dan praktik tahsin
IDENTITAS DAN PETUNJUK MODUL
| Mata kuliah/kegiatan | Tahsin Al-Qur'an |
| Topik | Hamzah Waşal (هَمْزَةُ الوَصْلِ) |
| Sasaran | Mahasiswa |
| Alokasi waktu | 2 × 50 menit, dapat disesuaikan |
| Prasyarat | Mengenal huruf hijaiyah, harakat, sukun, tasydid, serta konsep waqaf dan waşal |
Cara Menggunakan Modul
- Baca uraian konsep dan perhatikan bentuk kata Arab beserta harakatnya.
- Ucapkan contoh dengan suara jelas; bandingkan cara memulai bacaan (ibtida’) dan menyambungkannya (waşal).
- Latih bacaan di hadapan dosen atau pembimbing tahsin untuk mendapat koreksi makhraj dan harakat.
- Kerjakan latihan secara mandiri sebelum melihat kunci jawaban.
- Gunakan mushaf standar yang dipakai dalam pembelajaran dan ikuti talaqqi sebagai rujukan praktik.
Capaian Pembelajaran
Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa diharapkan mampu:
- Menjelaskan pengertian dan fungsi Hamzah Waşal.
- Membedakan Hamzah Waşal dan Hamzah Qat‘.
- Mengidentifikasi letak Hamzah Waşal pada kata benda, kata kerja, dan isim.
- Menentukan harakat Hamzah Waşal ketika memulai bacaan berdasarkan kaidahnya.
- Membaca contoh ayat dengan benar ketika memulai dan menyambungkan bacaan.
- Mengenali kesalahan bacaan dan memperbaikinya melalui latihan talaqqi.
BAB I. PENGERTIAN HAMZAH WAŞAL
1.1 Definisi
Hamzah Waşal (هَمْزَةُ الوَصْلِ) adalah hamzah yang dibaca ketika seseorang memulai bacaan dari kata yang diawali hamzah tersebut, tetapi tidak dialfalkan sebagai bunyi hamzah tersendiri ketika kata itu disambungkan dengan kata sebelumnya.
Dalam penulisan, Hamzah Waşal umumnya ditulis sebagai alif tanpa tanda hamzah biasa. Dalam banyak mushaf Al-Qur’an, tanda khususnya ditampilkan sebagai alif dengan kepala şād kecil di atasnya (ٱ), misalnya ٱلْحَمْدُ. Bentuk tanda dapat berbeda menurut sistem penulisan mushaf.
1.2 Tujuan Adanya Hamzah Waşal
Hamzah Waşal membantu pengucapan kata yang diawali huruf sukun atau susunan bunyi yang tidak mudah dimulai secara langsung dalam bahasa Arab. Ketika kata tersebut didahului kata lain, hamzah penghubung itu tidak diperlukan lagi sehingga tidak dialafalkan.
1.3 Istilah Penting
| Istilah | Makna ringkas |
|---|---|
| Ibtida' (اِبْتِدَاء) | Memulai bacaan dari suatu kata. |
| Waşal (وَصْل) | Menyambungkan bacaan dari kata sebelumnya. |
| Waqaf (وَقْف) | Berhenti pada akhir kata atau tempat berhenti. |
| Hamzah Waşal (هَمْزَةُ الوَصْلِ) | Hamzah yang dibaca ketika memulai, gugur ketika disambungkan. |
| Hamzah Qat' (هَمْزَةُ القَطْعِ) | Hamzah yang tetap dilafalkan ketika memulai maupun menyambungkan. |
BAB II. PERBEDAAN HAMZAH WAŞAL DAN HAMZAH QAT‘
| Aspek | Hamzah Waşal | Hamzah Qat‘ |
|---|---|---|
| Pelafalan saat memulai | Dibaca dengan harakat yang ditentukan kaidah. | Tetap dibaca. |
| Pelafalan saat menyambung | Tidak dilafalkan sebagai hamzah tersendiri. | Tetap dilafalkan. |
| Bentuk tulis umum | ٱ atau tanda khusus mushaf. | أ, إ, ؤ, ئ, dan bentuk hamzah lain sesuai posisi. |
| Contoh | الْحَمْدُ, اهْدِنَا, اسْتَغْفِرُوا | أَنْعَمْتَ, إِيَّاكَ, أُوتُوا |
Perhatikan contoh berikut:
اِهْدِنَا
IhdinaKetika memulai dari kata ini, hamzah dibaca.
وَاهْدِنَا
WahdinaKetika disambungkan setelah wa, bunyi hamzah tidak dibaca tersendiri.
أَنْعَمْتَ
An'amtaHamzah Qat' tetap dibaca.
BAB III. TEMPAT-TEMPAT HAMZAH WAŞAL
3.1 Pada Al-Ta'rif ال
Hamzah Waşal terdapat pada alif-lām ta‘rīf (ال), yaitu al yang menjadikan kata benda tertentu atau definitif. Ketika memulai kata yang memakai ال, hamzah dibaca fathah. Ketika menyambungkan kata itu dengan kata sebelumnya, hamzah tidak dilafalkan.
| Kata | Ketika memulai | Ketika menyambung |
|---|---|---|
| الْحَمْدُ | al-ḥamdu | ...l-ḥamdu |
| الرَّحْمَٰنُ | ar-raḥmāni | ...r-raḥmāni |
| الْكِتَابُ | al-kitābu | ...l-kitābu |
| النَّاسُ | an-nāsi | ...n-nāsi |
Pada huruf syamsiah, lām pada ال tidak dilafalkan sebagai bunyi lām karena mengalami idgham ke huruf syamsiah. Hal ini merupakan kaidah tersendiri yang berjalan bersama kaidah Hamzah Waşal. Pada huruf qamariah, lām dibaca jelas.
3.2 Pada Sejumlah Kata Benda (Asmā’)
Dalam pelajaran dasar, tujuh kata benda yang umum disebut memiliki Hamzah Waşal adalah: اِسْمٌ، اِبْنٌ، اِبْنَةٌ، امْرُؤٌ، امْرَأَةٌ، اثْنَانِ، اثْنَتَانِ.
Contoh bentuk yang sering dijumpai:
| Kata | Transliterasi ketika memulai | Arti ringkas |
|---|---|---|
| اِسْمٌ / اِسْم | ismun | nama |
| اِبْنٌ / اِبْن | ibnun | anak laki-laki |
| اِبْنَةٌ / اِبْنَة | ibnatun | anak perempuan |
| امْرُؤٌ / امْرَأَةٌ | imra’atun | perempuan/istri, sesuai konteks |
| اثْنَانِ / اثْنَتَانِ | ithnāni | dua (maskulin) |
Catatan: daftar kata benda dapat dirinci lebih luas dalam kitab nahwu dan sharaf; modul ini menampilkan daftar yang lazim dipakai sebagai pengantar. Bentuk bacaan mengikuti posisi kata dan konteks kalimat.
3.3 Pada Kata Kerja (Af‘āl)
Hamzah Waşal terdapat pada beberapa pola kata kerja, terutama:
- Fi‘il amr (kata perintah) dari fi‘il tsulātsī, misalnya اُكْتُبْ (uktub, ‘tulislah’) dan اُدْخُلْ (udkhul, ‘masuklah’).
- Fi‘il māḍī (lampau), fi‘il amr, dan maṣdar dari sejumlah fi‘il khumāsī (lima huruf) dan sudāsī (enam huruf), misalnya انْطَلَقَ، اِنْطِلَاق، اِسْتَغْفَرَ، اِسْتِغْفَار.
Panjang pola merujuk pada jumlah huruf dasar/pola kata menurut pembahasan sharaf, bukan sekadar jumlah tanda harakat yang terlihat.
BAB IV. HARAKAT HAMZAH WAŞAL KETIKA MEMULAI BACAAN
Harakat Hamzah Waşal tidak selalu sama. Untuk praktik tahsin, mahasiswa perlu mengenali jenis kata dan menerapkan kaidah berikut.
4.1 Pada ال : Fathah
اَلْحَمْدُ
al-ḥamduKetika memulai: hamzah dibaca dengan fathah.
اَلرَّحْمَٰنُ
ar-raḥmāniKetika memulai: hamzah dibaca dengan fathah; lām diidghamkan ke rā’.
4.2 Pada Kata Benda yang Mengandung Hamzah Waşal: Kasrah
Kaidah umum untuk kata benda yang diawali Hamzah Waşal adalah memulai dengan kasrah, misalnya اِسْمٌ dibaca ismun dan اِبْنٌ dibaca ibnun.
4.3 Pada Kata Kerja: Perhatikan Huruf Ketiga
Pada fi’il amr tertentu yang diawali Hamzah Waşal, harakat awal ditentukan dengan memperhatikan harakat huruf ketiga kata tersebut:
| Kondisi huruf ketiga | Harakat awal | Contoh | Cara mulai |
|---|---|---|---|
| Dammah asli (bukan dammah sementara) | Dammah | اُكْتُبْ | uktub |
| Fathah atau kasrah | Kasrah | اِضْرِبْ | iḍrib |
| Sukun | Kasrah | اِذْهَبْ | izhab |
Contoh tambahan:
| Tulisan | Bacaan ketika memulai | Keterangan |
|---|---|---|
| اُكْتُبْ | uktub | Huruf ketiga berharakat dammah asli. |
| اُدْخُلْ | udkhul | Huruf ketiga berharakat dammah asli. |
| اِضْرِبْ | iḍrib | Huruf ketiga berharakat kasrah. |
| اِذْهَبْ | izhab | Huruf ketiga sukun; dimulai dengan kasrah. |
| اِسْتَغْفِرْ | istaghfir | Bentuk perintah; dimulai dengan kasrah. |
BAB V. CARA MEMBACA KETIKA WAŞAL
Ketika Hamzah Waşal berada di awal kata yang disambungkan dengan kata sebelumnya, hamzah tidak dibunyikan sebagai hamzah tersendiri. Pembaca langsung berpindah dari akhir kata sebelumnya ke huruf yang dibaca setelah Hamzah Waşal, dengan tetap menerapkan hukum bacaan lain yang relevan.
| Rangkaian | Bacaan sambung | Penjelasan |
|---|---|---|
| بِسْمِ اللَّهِ | bismillāh | Hamzah Waşal pada lafz al-jalālāh tidak dibaca tersendiri setelah bismi. |
| وَالْحَمْدُ | wal-ḥamdu | Hamzah Waşal pada ال tidak dibunyikan tersendiri. |
| وَاهْدِنَا | wahdinā | Hamzah Waşal pada اهْدِنَا gugur ketika disambungkan. |
| فَاسْتَغْفِرُوا | fastaghfirū | Hamzah Waşal pada kata kerja tidak dibaca sebagai hamzah tersendiri. |
Transliterasi di atas hanya alat bantu. Ukuran utama ketepatan bacaan ialah pelafalan Arab yang benar melalui talaqqi, bukan mengeja transliterasi Indonesia.
BAB VI. CONTOH DALAM AL-QUR’AN
QS. Al-Fātiḥah [1]: 1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm
Pada Hamzah Waşal pada lafz al-jalālāh tidak dilafalkan sebagai hamzah tersendiri karena disambungkan.
QS. Al-Fātiḥah [1]: 2
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn
Jika memulai dari الْحَمْدُ, Hamzah dibaca fathah. Dalam sambungan, bunyi hamzah tidak diulang.
QS. Al-Fātiḥah [1]: 6
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm
Jika memulai dari اهْدِنَا, dibaca ihdinā. Jika didahului, menjadi wahdinā tanpa bunyi hamzah tersendiri.
QS. Al-Baqarah [2]: 2
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ
Żālikal-kitābu lā raiba fīh
Hamzah Waşal pada الْكِتَابُ tidak dibunyikan tersendiri ketika disambungkan setelah ذَٰلِكَ.
QS. An-Naṣr [110]: 3
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ
Fa sabbiḥ biḥamdi rabbika wastaghfirhu
Kata وَاسْتَغْفِرْهُ memuat Hamzah Waşal pada bentuk perintah; dalam sambungan setelah wa, hamzah tidak dibunyikan tersendiri.
QS. Al-‘Aṣr [103]: 2
إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
Innal-insāna lafī khusr
Perhatikan perbedaan: إِنَّ memiliki Hamzah Qat‘, sedangkan الْإِنسَانَ memiliki Hamzah Waşal pada ال. Ini contoh pembanding dalam satu rangkaian.
BAB VII. KESALAHAN UMUM DAN KLASIFIKASINYA
- Membunyikan hamzah ketika menyambungkan kata yang mengandung Hamzah Waşal.
- Tidak membunyikan Hamzah Waşal ketika memulai bacaan dari kata tersebut.
- Menganggap semua Hamzah Waşal harus dimulai dengan kasrah.
- Keliru membedakan Hamzah Waşal pada ال dengan Hamzah Qat‘ pada kata seperti أَنْعَمْتَ atau إِنَّ.
- Tidak memperhatikan hukum lain yang berjalan bersamaan, seperti idgham huruf syamsiah pada الرَّحْمَٰنُ.
7.1 Lahn Jalî dan Lahn Khafî
Lahn Jalî (اللَّحْنُ الجَلِيُّ) adalah kesalahan yang jelas pada pelafalan, misalnya perubahan huruf atau harakat yang nyata. Lahn Khafî (اللَّحْنُ الخَفِيُّ) biasanya merujuk pada ketidaktepatan penerapan kaidah tajwid yang lebih halus dan dikenali melalui pembelajaran tajwid.
Kesalahan Hamzah Waşal tidak dapat diklasifikasikan secara otomatis hanya berdasarkan nama topiknya. Jika kesalahan menyebabkan perubahan huruf atau harakat kata secara jelas, ia dapat masuk pembahasan Lahn Jalî. Jika berupa ketidaktepatan teknis pelaksanaan bacaan tanpa perubahan struktur kata, perlu dianalisis sesuai bentuk kesalahannya. Dalam pengajaran, utamakan identifikasi konkret: kata apa, dibaca bagaimana, dan apa bentuk yang benar.
BAB VIII. LANGKAH PRAKTIK TAHSIN
- Tentukan apakah latihan dimulai dari kata atau disambungkan dari kata sebelumnya.
- Tandai Hamzah Waşal pada kata yang dipelajari.
- Jika memulai, tentukan harakat awal berdasarkan jenis kata dan kaidahnya.
- Jika menyambung, hilangkan bunyi hamzah tersendiri dan sambungkan pelafalan secara wajar.
- Periksa hukum bacaan lain yang menyertai, misalnya huruf syamsiah dan qamariah.
- Baca perlahan tiga kali, kemudian baca dalam rangkaian ayat dengan tempo tartil.
- Minta dosen/pembimbing mengoreksi langsung; catat bentuk kesalahan dan ulangi bagian belum tepat.
BAB IX. LATIHAN MAHASISWA
A. Identifikasi
Tentukan apakah kata yang dicetak tebal mengandung Hamzah Waşal atau Hamzah Qat'.
| No. | Kata/rangkaian | Jawaban mahasiswa |
|---|---|---|
| 1 | الْحَمْدُ | ................................ |
| 2 | أَنْعَمْتَ | ................................ |
| 3 | اهْدِنَا | ................................ |
| 4 | إِسْلَامَ | ................................ |
| 5 | اسْتَغْفِرُوا | ................................ |
| 6 | إِنَّ | ................................ |
B. Tentukan Cara Memulai
Tuliskan bacaan ketika memulai kata berikut dengan memperhatikan kaidah harakat Hamzah Waşal.
| No. | Kata | Cara membaca ketika memulai |
|---|---|---|
| 1 | الْكِتَابُ | ................................ |
| 2 | أَكْثَرُ | ................................ |
| 3 | اِذْهَبْ | ................................ |
| 4 | اِسْمٌ | ................................ |
| 5 | اُدْخُلْ | ................................ |
C. Latihan Waşal
Baca rangkaian berikut. Lingkari bagian Hamzah Waşal, kemudian tuliskan bagaimana bunyi rangkaian saat disambungkan.
| No. | Rangkaian | Transliterasi bantu |
|---|---|---|
| 1 | وَاهْدِنَا | ................................ |
| 2 | بِسْمِ اللَّهِ | ................................ |
| 3 | وَاسْتَغْفِرُوا | ................................ |
| 4 | ذَٰلِكَ الْكِتَابُ | ................................ |
D. Praktik Lisan
Bacakan kepada dosen/pembimbing:
- الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (QS. Al-Fātiḥah [1]: 2)
- بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ (QS. Al-Fātiḥah [1]: 1)
- اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (QS. Al-Fātiḥah [1]: 6)
- فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ (QS. An-Naṣr [110]: 3)
Kunci Jawaban dan Pembahasan
A. Identifikasi
| No. | Jawaban | Alasan |
|---|---|---|
| 1 | Hamzah Waşal | Pada ال ta'rif. |
| 2 | Hamzah Qat' | Hamzah berharakat dan tetap dibaca saat waşal. |
| 3 | Hamzah Waşal | Dibaca ketika memulai, gugur sebagai hamzah saat waşal. |
| 4 | Hamzah Qat' | Hamzah tetap dilafalkan. |
| 5 | Hamzah Waşal | Berada pada bentuk kata kerja yang diawali Hamzah Waşal. |
| 6 | Hamzah Qat' | Hamzah di bawah alif tetap dibaca. |
B. Cara Memulai
| No. | Jawaban | Catatan |
|---|---|---|
| 1 | al-kitābu | Pada ال, mulai dengan fathah. |
| 2 | uktub | Huruf ketiga memiliki dammah asli. |
| 3 | izhab | Huruf ketiga sukun; dimulai dengan kasrah. |
| 4 | ismun | Kata benda; dimulai dengan kasrah. |
| 5 | udkhul | Huruf ketiga memiliki dammah asli. |
C. Contoh Waşal
| No. | Bacaan bantu | Catatan |
|---|---|---|
| 1 | wahdinā | Tidak ada bunyi hamzah tersendiri setelah wa. |
| 2 | bismillāh | Hamzah Waşal pada lafz al-jalālah tidak dilafalkan tersendiri. |
| 3 | wastaghfirhu | Hamzah Waşal pada kata kerja. |
Rubrik Penilaian Praktik
| Aspek | Bobot | Indikator |
|---|---|---|
| Identifikasi Hamzah Waşal/Qat' | 20% | Mampu membedakan contoh dengan tepat. |
| Harakat ketika ibtida' | 25% | Menentukan dan melafalkan harakat awal dengan benar. |
| Penyambungan (waşal) | 25% | Tidak memunculkan bunyi hamzah tersendiri ketika disambung. |
| Ketepatan pelafalan dan hukum terkait | 20% | Memperhatikan huruf, harakat, dan hukum bacaan lain. |
| Kelancaran dan adab belajar | 10% | Membaca tartil, menerima koreksi, dan mengulang bagian yang perlu. |
Skor akhir dapat disesuaikan dengan kebijakan dosen. Praktik lisan sebaiknya menjadi bagian penting dari penilaian karena ketepatan bacaan tidak cukup dinilai hanya melalui soal tertulis.
RANGKUMAN
- Hamzah Waşal dibaca ketika memulai kata dan tidak dilafalkan sebagai bunyi hamzah tersendiri ketika menyambungkan bacaan.
- Hamzah Waşal terdapat pada ال ta'rif, sejumlah kata benda (asma'), dan pola kata kerja tertentu.
- Pada ال ta'rif, hamzah dimulai dengan fathah. Pada kata benda, umumnya dimulai dengan kasrah.
- Pada fi'il amr tertentu, harakat awal ditentukan dengan melihat harakat huruf ketiga dan apakah harakat itu asli.
- Hamzah Qat' berbeda karena tetap dilafalkan ketika memulai maupun menyambungkan.
- Kesalahan bacaan harus diperiksa berdasarkan contoh konkret; klasifikasi Lahn Jali/Khafi dan implikasi fikih tidak boleh diputuskan secara serampangan.
- Talaqqi, pengulangan, dan koreksi langsung merupakan cara utama untuk memperbaiki praktik bacaan.
DAFTAR RUJUKAN UNTUK PENDALAMAN
- Ibn al-Jazari. Al-Muqaddimah al-Jazariyyah, bagian kaidah bacaan dan adab pembacaan Al-Qur'an.
- Sulaimân al-Jamzûrî. Tuḥfat al-Aṭfāl wa al-Ghilām fī Tajwīd al-Qur’ān, sebagai pengantar nazam tajwid.
- ‘Abd al-Fattāh al-Qāḍī. Al-Budūr al-Zāhirah fī al-Qirā’āt al-‘Ashr al-Mutawātirah, untuk pendalaman ilmu qira’at.
- Mushaf Al-Qur’an standar yang digunakan dalam pembelajaran; rujuk tanda waşal, waqaf, dan penulisan Utsmani sesuai edisi mushaf.

Posted by 
.png)
Emoticon